|
Tata Ruang Agroindustri Jambi |
|
|
|
|
01. Februari 2007 jam 01:18 |
Oleh : Dr.Muh Safri,SE,MSi  Secara teoritis kemiskinan pada dasarnya dapat dibagi atas 2, yakni Kemiskinan alamiah dan kemiskinan struktural.Didalam praktek, bisa saja kedua jenis kemiskinan terrsebut terjadai bersamaan disuatu daerah. Umumnya, kemiskinan alamaiah terjadi berkaitan dengan keadaan kualitas sumber daya disuatu daerah.Sedangkan kemiskinan struktural lebih diakibatkan oleh kelembagaan formal maupun tidak formal ditengah masyarakat.
Lahan pertanian Jambi umumnya sekitar 51% didominasi oleh tanah Podsolik Merah Kuning. Jenis tanah podsonik merah kuning kebanyakn terdapat dikabupaten Bungo, Tebo, Merangin, Sarolangun, Batanghari dan Muaro Jambi. Kabupaten-kabuten yang baru disebutkan cocok untuk komoditi perkebunan karet, sawit. Komoditi karet dan sawit yang marak pengusahaannya mulai era 1980 memang telah menampakan hasil dan kontribusi secara nyata terhadap perkembangan ekonomi rakyat setempat dan ekonomi wilayah.
Namun, sungguh disayangkan,sawit yang juga diusahakan disebagian wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat belum secara optimal pengembanganny. Optimalisasi sawit yang mengadung muatan nilai tambah dan dampak ganda lebih luas dapat diraih jika dari CPO dapat diturunkan menjadi sekitar 33 produk, seperti mentega,minyak goreng dan sebagainya yang berada di Jambiumumnya baru pada tahap mengekspor bahan baku berupa CPO.
Begitu pula usaha perkebunan karet rakyat.usaha yang berbasis agrobisnis ini belum optimal memberi nilai tambah (value added) dan dampak ganda (multieplier effect) kepada petani penyadap. Pembenahan sisi produksi (on form)yang dimulai dari pembibitan hingga pasca produksi (off-form) harus dilakukan.
Dari sisi pengelolaan pertanian, daerah yang hanya didukung teknologi tradisional masuk dalam kriteria miskin alamiah. Pengelolaan pertanian lahan sawah dan non sawah oleh petani kebanyakan masih bersifat tradisional. Petani pada umumnya inwardlooking kondisi ini masih banyak di jambi senang tidak senang kebanyakan petani berproduksi untuk tujuan subsistem walau surplus pasar untuk beberapa jenis barang tertentu di beberapa kabupaten dapat terwujud. Peningkatan produksi Jambi padi secara total dari 2003 ke 2004 hanya 0,18%, yakni dari 36,27 kw/ha menjadi 36,95 kw/ha. Sumbangan produksi terbesar berada di kerinci sebesar 49,07 kw/ha padahl dilihat dari lahan sawah dan non sawah antar kabupaten lahan terluas antar kabupaten terletak di kabupaten Sarolangun yaitu 1.389.195 ha. Sumber Daya Desa Distribusi pendapatan antar keluarga relatif merata.Jika dilakukan pemetaan dengan kurva Gini Ratio, berada pada kisaran 2,0 - 3,0. Pemerataan distribusi pendapatan yang yang signifikan pengaruhnya pada pemberdayaan hidup masyarakat desa, kebanyakan orang-orang desa di jambi masih tetap berada di desa melakukan aktivitas ekonomi.
Tenaga kerja yang semestinya berada di desa dan memiliki kemampuan relatif untuk mengolah lahan pertanian dan perkebunan pergi migrasi kekota yang diperkirakan lebih menjanjikan. Dikota mereka dengan keterbatasan pendidikan dan ketrampilan tidak berhasil masuk ke sektor formal dan industri perkotaan yang membutuhkan spesifikasi tertentu. Pengembangan Agroindustri dipedesaan dilakukan secara integral dengan penyusunan ruang agroindustri ditingkat kabupaten-kabupaten yang belum mempunyai wilayah komoditi harus secepatnya memiliki komoditi penunjang sebagai komplemen komoditi utama.
Sejalan dengan pengembangan agroindustri pedesaan para pelaku pengembangan sektor pertanian jambi harus dapat membuat skenario intensif yang mendorong pihak swasta besar nasional atau daerah jambidapat berpartisipasi membantu mengimplementasikan program program pemberdayaan ekonomi kalangan miskin. |
|
Last Updated ( 01. Februari 2007 jam 15:22 )
|